JAKARTA - Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, menekankan pentingnya mendorong produk unggulan kawasan transmigrasi agar bisa menembus pasar global.
Salah satu contoh yang disoroti adalah melon dari Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung. Menurut Wamentrans, keberhasilan program transmigrasi sejak era Presiden Soekarno hingga Presiden Prabowo Subianto telah melahirkan sejumlah desa dan kawasan yang berpotensi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.
“Program transmigrasi sejak zaman Presiden Soekarno sampai Presiden Prabowo Subianto telah melahirkan desa definitif sebanyak 1.567 desa, 466 kecamatan, 116 kabupaten/kota,” kata Viva Yoga Mauladi.
Saat ini, terdapat 154 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia yang memiliki karakteristik dan komoditas unggulan masing-masing. Di Mesuji sendiri, selain melon, juga berkembang komoditas pisang dan singkong yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih luas.
Sinergi dengan Off-Taker untuk Pasar yang Lebih Luas
Dalam upaya mendukung pemasaran hasil pertanian, Kementerian Transmigrasi menggandeng off-taker melalui nota kesepahaman (MoU).
Kerja sama ini bertujuan agar produk petani transmigrasi dapat dijual secara lebih luas, termasuk melalui jaringan toko ritel.
“Di Mesuji ini ada melon, pisang, singkong, dan kami telah menggandeng off-taker untuk MoU agar produk-produk di petani kawasan transmigrasi ini bisa dijual di Toko Krisna Bali,” ujar Wamentrans.
Dengan adanya kerja sama tersebut, seluruh proses dari menanam hingga memproduksi produk pertanian akan memiliki kepastian pasar. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan pendapatan petani secara berkelanjutan, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Setiap Kawasan Transmigrasi Memiliki Produk Unggulan
Yoga Mauladi menambahkan bahwa setiap kawasan transmigrasi memiliki produk unggulan yang berbeda. Seluruh potensi ini diarahkan ke program hilirisasi berbasis industri yang melibatkan masyarakat transmigrasi.
Tujuannya adalah membangun ekosistem ekonomi yang terintegrasi, sehingga kawasan transmigrasi tidak hanya menjadi sentra pertanian, tetapi juga pusat industri dan ekonomi kreatif.
“Artinya dari pengembangan ekonomi di kawasan transmigrasi kita menginginkan ada pola kerja sama, misalnya dengan para investor yang akan menanamkan modelnya di kawasan sehingga akan memberikan trickle down effect buat pengembangan ekonomi rakyat yang juga akan dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” terang Yoga.
Peningkatan Infrastruktur untuk Mendukung Produktivitas
Selain mendorong pemasaran, Kementerian Transmigrasi tahun ini berencana memberikan dukungan berupa pembangunan infrastruktur, renovasi fasilitas umum, penyediaan air bersih, hingga bantuan lain yang diperlukan pemerintah daerah.
Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat transmigrasi.
Dengan fasilitas yang lebih baik, diharapkan petani mampu memaksimalkan produksi dan kualitas komoditas unggulan, sehingga lebih kompetitif di pasar nasional maupun internasional.
Potensi Lahan Pertanian Kabupaten Mesuji
Bupati Mesuji, Elfianah, menjelaskan wilayahnya memiliki karakteristik lahan kering dan lahan rawa gambut yang sebagian besar berada di kawasan transmigrasi. Kondisi ini dianggap memiliki potensi besar untuk pengembangan tanaman pangan dan perkebunan.
Luas lahan sawah di Kabupaten Mesuji mencapai 29.167,8 hektare, terdiri dari lahan tadah hujan seluas 7.500 hektare dan lahan rawa pasang surut seluas 21.665 hektare. Kabupaten ini memiliki indeks pertanaman sebesar 1,7 dan produktivitas rata-rata 5,1 ton per hektare.
“Ini yang Alhamdulillah dapat menunjang ketahanan pangan di Kabupaten Mesuji dan kami nomor tiga di Provinsi Lampung menunjang ketahanan pangan di Provinsi Lampung,” tambah Bupati Elfianah.
Transformasi Kawasan Transmigrasi Menjadi Pusat Ekonomi
Kawasan Transmigrasi Mesuji merupakan contoh nyata transformasi dari kawasan hutan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di ujung utara Lampung, berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Selatan.
Program transmigrasi tidak hanya menyediakan tempat tinggal, tetapi juga membangun fondasi ekonomi bagi masyarakat.
Dengan dukungan pemerintah pusat, daerah, dan kerja sama dengan pihak swasta, potensi kawasan transmigrasi bisa diarahkan menjadi pusat produksi komoditas unggulan yang berdaya saing global.
Hilirisasi Produk dan Pengembangan Industri
Fokus Kementrans ke depan adalah mengembangkan hilirisasi produk unggulan transmigrasi. Setiap komoditas, seperti melon, pisang, dan singkong, diharapkan memiliki nilai tambah melalui pengolahan industri.
Strategi ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan, sekaligus membuka peluang ekspor ke pasar internasional.
Selain itu, program ini melibatkan masyarakat transmigrasi secara aktif, sehingga mereka tidak hanya menjadi produsen mentah, tetapi juga bagian dari rantai nilai ekonomi yang lebih luas.
Kepastian Pasar dan Pendapatan Berkelanjutan
Melalui kerja sama dengan off-taker dan pengembangan industri, Wamentrans memastikan para petani memiliki kepastian pasar. Pendapatan yang lebih stabil akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat transmigrasi, sekaligus memberikan kontribusi terhadap ekonomi nasional.
Kehadiran investor dan pengembangan industri hilir di kawasan transmigrasi juga diharapkan memberi efek trickle-down. Artinya, keuntungan yang diperoleh tidak hanya dinikmati investor, tetapi juga masyarakat lokal sebagai pelaku ekonomi utama.
Program transmigrasi di Mesuji membuktikan bahwa pengembangan kawasan terpadu dapat menghasilkan desa definitif dengan komoditas unggulan yang berpotensi menembus pasar global.
Dukungan pemerintah melalui infrastruktur, kemitraan dengan off-taker, dan pengembangan industri hilir diharapkan menjadikan masyarakat transmigrasi lebih sejahtera.
“Kami ingin produk unggulan kawasan transmigrasi memiliki daya saing global, sekaligus memberikan kontribusi signifikan terhadap ekonomi nasional,” tutup Wamentrans Viva Yoga Mauladi.