JAKARTA - Menjelang berakhirnya Ramadan, perhatian umat Islam kembali tertuju pada satu kewajiban penting yang tidak boleh terlewatkan, yakni zakat fitrah.
Ibadah ini harus ditunaikan sebelum pelaksanaan sholat Idul Fitri dan menjadi penutup rangkaian puasa selama sebulan penuh. Zakat fitrah bukan hanya bentuk ketaatan pribadi kepada Allah SWT, tetapi juga wujud nyata kepedulian sosial terhadap sesama.
Di Indonesia, pelaksanaan zakat fitrah setiap Ramadan selalu berjalan berdampingan dengan meningkatnya semangat berbagi. Momentum ini menjadi bagian penting dalam menutup rangkaian ibadah puasa dengan penyucian diri sekaligus memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, KH Miftahul Huda, menegaskan bahwa zakat fitrah memiliki kedudukan wajib bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat kemampuan.
Ia menyampaikan, "Zakat fitrah wajib ditunaikan oleh setiap muslim yang mampu sebelum Hari Raya Idul Fitri. Membayar zakat fitrah adalah bentuk kepedulian sosial dan penyucian diri sebelum menyambut Idul Fitri,” ujar Sekertaris Komisi Fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI), KH Miftahul Huda.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa zakat fitrah bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan kewajiban agama dengan dimensi spiritual sekaligus sosial.
Dimensi Spiritual dan Sosial Zakat Fitrah
Secara teologis, zakat fitrah menjadi sarana pembersihan jiwa setelah menjalani ibadah puasa Ramadan. Selama sebulan penuh, umat Islam berupaya menahan diri dari berbagai hal yang membatalkan puasa. Zakat fitrah hadir sebagai penyempurna ibadah tersebut, membersihkan kekurangan yang mungkin terjadi selama berpuasa.
Selain sebagai penyucian diri, zakat fitrah juga memiliki fungsi sosial yang sangat kuat. Distribusi zakat membantu masyarakat kurang mampu agar dapat turut merasakan kebahagiaan di hari kemenangan. Dengan demikian, kebutuhan pangan menjelang Idul Fitri dapat terpenuhi secara lebih merata.
Momentum ini memperlihatkan keseimbangan ajaran Islam antara hubungan vertikal dengan Allah SWT dan hubungan horizontal dengan sesama manusia. Zakat fitrah menjadi instrumen nyata dalam mengurangi kesenjangan sosial, khususnya menjelang hari raya.
Ketentuan dan Tata Cara Pembayaran
Dalam penjelasannya, KH Miftahul Huda juga memaparkan tata cara pembayaran zakat fitrah yang perlu diperhatikan umat Islam. Salah satu hal mendasar adalah penentuan besaran zakat.
Zakat fitrah umumnya dikeluarkan dalam bentuk makanan pokok seperti beras, gandum, atau bahan pangan lain yang menjadi konsumsi utama masyarakat setempat. Jumlahnya sebesar 1 sha’ atau setara sekitar 2,5 hingga 3 kilogram per orang.
Apabila dibayarkan dalam bentuk uang, nominalnya harus menyesuaikan dengan harga makanan pokok di daerah masing-masing. Penyesuaian ini penting agar nilai manfaat yang diterima mustahik tetap setara dengan ketentuan syariat.
Setelah menentukan besaran zakat, langkah berikutnya adalah menyalurkannya kepada pihak yang berhak. Dalam Islam, terdapat delapan golongan penerima zakat atau asnaf, dengan prioritas utama fakir dan miskin.
Penyaluran zakat fitrah dapat dilakukan melalui amil zakat, seperti pengurus masjid atau lembaga resmi pengelola zakat. Selain itu, zakat juga boleh diberikan langsung kepada penerima yang berhak sesuai ketentuan.
Niat Zakat Fitrah untuk Diri dan Keluarga
Selain aspek teknis, niat menjadi unsur fundamental dalam pembayaran zakat fitrah. Niat harus dilandasi keikhlasan karena Allah SWT dan cukup diucapkan dalam hati.
Untuk diri sendiri, lafaznya adalah:
???????? ???? ???????? ??????? ????????? ???? ??????? ??????? ??????? ????????
"Nawaitu an ukhrija zak?tal-fitri ‘an nafs? fardhan lill?hi ta‘?l?."
(Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku sebagai kewajiban karena Allah Ta'ala.)
Sementara itu, bagi yang membayarkan zakat untuk anggota keluarga yang menjadi tanggungannya, lafaz niat dapat disesuaikan dengan menyebut nama pihak yang diwakili.
Bacaan niatnya sebagai berikut:
???????? ???? ???????? ??????? ????????? ????...??????? ??????? ????????
"Nawaitu an ukhrija zak?tal-fitri ‘an... (sebutkan nama) fardhan lill?hi ta‘?l?."
(Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk... (sebutkan nama) sebagai kewajiban karena Allah Ta'ala.)
Adapun untuk pembayaran zakat fitrah sekaligus bagi diri sendiri dan seluruh keluarga, tersedia lafaz khusus yang juga dapat dibaca dalam hati:
???????? ???? ???????? ??????? ????????? ?????? ?????? ?????? ??????? ??????? ??????? ????????
"Nawaitu an ukhrija zak?tal-fitri ‘ann? wa ‘an ahli baiti fardhan lill?hi ta‘?l?."
(Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku dan keluargaku sebagai kewajiban karena Allah Ta'ala.)
Doa dan Harapan Keberkahan
Tidak hanya niat, umat Islam juga dianjurkan membaca doa setelah menunaikan zakat fitrah agar amal tersebut diterima dan membawa keberkahan.
Berikut doa yang dianjurkan:
?????????? ????? ????? ...?????????? ?????????? ??????????? ??????????? ????????? ??? ?????????? ??????????? ?????? ??? ???????
"Allahumma shalli ‘ala ... (sebutkan nama yang berzakat), All?hummaj‘alh? muthahhiratan linnafs, wa b?rik f? rizq, wa taqabbal minn? y? kar?m."
(Ya Allah, sayangilah … (nama yang berzakat), ya Allah, jadikanlah zakat ini sebagai penyucian bagi jiwa, berkah dalam rezeki, dan terimalah amal kami, wahai Dzat Yang Maha Pemurah.)
Doa tersebut mencerminkan harapan agar zakat tidak hanya bernilai administratif, tetapi benar-benar menjadi sarana pembersihan jiwa dan pembuka pintu rezeki.
Secara sosial, zakat fitrah memiliki dampak signifikan dalam mengurangi kesenjangan menjelang Idul Fitri. Kegiatan pengumpulan dan penyaluran zakat sering melibatkan relawan, pengurus masjid, hingga lembaga sosial demi memastikan penyaluran tepat sasaran.
KH Miftahul Huda menekankan pentingnya pemahaman yang benar mengenai tata cara, niat, dan doa agar ibadah sah secara syariat dan bernilai maksimal. Idealnya, zakat fitrah ditunaikan sebelum pelaksanaan sholat Idul Fitri.
Dengan menunaikan zakat fitrah sesuai ketentuan, umat Islam tidak hanya menyempurnakan ibadah puasanya, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial. Harapannya, zakat yang dikeluarkan menjadi sarana keberkahan dan membersihkan jiwa dari segala kekurangan selama menjalani Ramadan.