JAKARTA - PT RMK Energy Tbk. (RMKE) menyiapkan strategi agresif untuk menggenjot kinerja keuangan pada tahun buku 2026. Target laba bersih Rp800 miliar menjadi fokus utama perseroan, yang optimis dicapai melalui penguatan infrastruktur logistik terintegrasi dan optimalisasi distribusi batu bara.
Langkah ini juga sejalan dengan perubahan regulasi di Sumatera Selatan yang melarang pengangkutan batu bara melalui jalan umum mulai 2026, sehingga penggunaan jalur hauling khusus dan moda kereta api menjadi vital.
Direktur Utama RMKE, Vincent Saputra, menjelaskan bahwa rampungnya pembangunan hauling road yang menghubungkan area tambang langsung ke fasilitas angkutan utama membuat perusahaan lebih efisien dalam mendistribusikan batu bara.
Selain itu, tiga pelanggan baru, yakni PT Wiraduta Sejahtera Langgeng (WSL), PT Duta Bara Utama (DBU), dan Menambang Muara Enim (MME), telah bergabung, memperkuat proyeksi pendapatan yang ditargetkan mencapai Rp4,1 triliun.
Optimasi Infrastruktur dan Jalur Hauling
Keberadaan hauling road khusus menjadi salah satu pilar utama strategi RMKE. Jalur ini memungkinkan pengiriman batu bara dari tambang langsung ke pelabuhan atau fasilitas pelanggan tanpa harus melalui jalan umum, yang tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional tetapi juga mematuhi regulasi pemerintah.
Vincent menambahkan, “Integrasi infrastruktur ini sangat strategis karena memberikan keunggulan kompetitif dalam hal kecepatan, keamanan, dan biaya logistik.”
Selain itu, perseroan memanfaatkan moda kereta api sebagai tulang punggung distribusi, sehingga kapasitas pengiriman dapat ditingkatkan secara signifikan.
Optimalisasi infrastruktur ini diharapkan mampu mengakomodasi lonjakan volume jasa batu bara dan mengurangi risiko keterlambatan pengiriman yang kerap terjadi pada jalur konvensional.
Proyeksi Keuangan dan Dividen
RMKE menyiapkan target keuangan yang ambisius untuk memberikan nilai tambah bagi pemegang saham. Dengan posisi kas mencapai Rp250 miliar dan kinerja yang membaik, perseroan menargetkan rasio dividen minimum 20%.
Vincent menegaskan, “Nilai dividen tahun ini kami perkirakan dapat melampaui Rp40 miliar dan akan jauh lebih besar dibandingkan tahun lalu.”
Proyeksi pendapatan sebesar Rp4,1 triliun disertai optimalisasi infrastruktur diyakini akan mendukung pencapaian laba bersih Rp800 miliar.
Hal ini menunjukkan kombinasi strategi operasional yang efisien dengan manajemen keuangan yang solid, memberikan kepercayaan bagi investor dan pemegang saham bahwa pertumbuhan jangka panjang perseroan berada di jalur yang tepat.
Ekspansi Kapasitas dan Volume Jasa
Selain infrastruktur, RMKE berencana melakukan ekspansi kapasitas operasional. Container yard baru akan menggandakan kapasitas loading station dari 4 juta ton menjadi 8 juta ton per tahun, sementara kapasitas pelabuhan ditingkatkan dari 20 juta ton menjadi 28 juta ton per tahun.
Langkah ini dirancang untuk mengantisipasi lonjakan volume jasa logistik yang diproyeksikan meningkat dari sekitar 8 juta ton pada 2025 menjadi lebih dari 12 juta ton pada 2026.
Dengan ekspansi ini, RMKE tidak hanya mengandalkan pelanggan yang ada tetapi juga membidik penambahan 2 hingga 3 pelanggan baru, termasuk potensi kontrak besar melalui jalur hauling yang terhubung dengan tambang PT Bukit Asam Tbk. (PTBA).
Strategi ini dipandang sebagai upaya untuk meningkatkan efisiensi distribusi sekaligus memperluas basis pendapatan.
Strategi Pertumbuhan Jangka Panjang
Langkah RMKE memasuki 2026 menekankan pada integrasi vertikal, efisiensi logistik, dan ekspansi kapasitas sebagai strategi pertumbuhan jangka panjang.
Penguatan hauling road, pemanfaatan moda kereta api, serta container yard dan peningkatan kapasitas pelabuhan memastikan perusahaan siap menghadapi permintaan yang meningkat.
Selain itu, pengelolaan kas yang sehat dan fokus pada distribusi yang efisien menciptakan fleksibilitas finansial. Hal ini memungkinkan RMKE untuk menghadapi dinamika pasar batu bara, memitigasi risiko operasional, dan menjaga kesinambungan pertumbuhan laba.
Strategi terpadu ini diharapkan tidak hanya meningkatkan laba, tetapi juga memperkuat posisi perusahaan di sektor jasa logistik batu bara yang kompetitif di Sumatera Selatan dan sekitarnya.
Dengan target laba Rp800 miliar dan proyeksi pendapatan Rp4,1 triliun, RMKE menegaskan komitmennya untuk menjadi pemain logistik batu bara terkemuka sekaligus memberikan manfaat maksimal bagi pemegang saham melalui dividen dan pertumbuhan nilai perusahaan.