JAKARTA - Selama ini, perhatian publik lebih banyak tertuju pada dampak kurang tidur. Padahal, tidur berlebihan atau oversleeping juga memiliki konsekuensi serius bagi kesehatan.
Banyak orang menganggap tidur panjang sebagai tanda tubuh yang sehat, padahal durasi tidur yang berlebihan bisa menandakan gangguan medis atau pola hidup yang kurang baik.
Tidur berlebihan biasanya didefinisikan sebagai durasi sembilan jam atau lebih dalam 24 jam. Meski tampak sederhana, kondisi ini sering disertai gejala lain seperti kantuk berlebihan di siang hari, sakit kepala, tubuh terasa lemas, hingga ketergantungan pada tidur siang.
Setiap orang memiliki kebutuhan tidur berbeda, tergantung usia, aktivitas, dan gaya hidup. Jika tidur panjang tidak membuat tubuh segar saat bangun, hal ini patut diwaspadai.
Dikutip dari WebMD, terdapat beberapa faktor utama yang dapat menyebabkan tidur terlalu lama, mulai dari pengaruh zat adiktif hingga gangguan tidur klinis. Memahami penyebabnya dapat membantu mengenali risiko dan mengambil langkah pencegahan yang tepat.
Pengaruh Zat Adiktif dan Alkohol
Salah satu faktor yang bisa memicu tidur panjang adalah penggunaan atau penghentian zat adiktif. Penghentian obat stimulan seperti amfetamin dan kokain dapat membuat tubuh terasa sangat mengantuk sebagai bagian dari proses pemulihan. Sementara itu, alkohol memiliki efek sedatif yang membuat seseorang lebih mudah tertidur.
Namun, konsumsi alkohol justru berisiko memicu Excessive Daytime Sleepiness, yaitu kondisi di mana seseorang sulit terjaga di siang hari meski tidur cukup lama. Oleh karena itu, pengaruh zat dan alkohol perlu diperhatikan sebagai penyebab potensial oversleeping.
Gaya Hidup, Lingkungan, dan Kondisi Tubuh
Tekanan hidup modern kerap mengganggu ritme tidur alami. Beban kerja yang berat, jadwal padat, dan tanggung jawab keluarga dapat memangkas waktu tidur secara konsisten. Akibatnya, tubuh “membayar utang tidur” dengan tidur lebih lama di hari berikutnya.
Pola kerja shift atau kerja malam juga berdampak besar. Ritme sirkadian terganggu, sehingga tubuh mendorong tidur kompensasi yang lebih panjang.
Selain itu, saat tubuh sedang sakit seperti flu atau infeksi, durasi tidur meningkat sebagai mekanisme pemulihan. Namun, tidur panjang saat sakit sering kali tidak membuat tubuh merasa segar saat bangun.
Efek Obat-obatan dan Penyakit Kronis
Sejumlah obat dapat menimbulkan kantuk berkepanjangan. Antihistamin, obat pereda nyeri, antidepresan, serta obat tidur atau penenang memengaruhi ritme tidur alami jika digunakan tidak tepat atau dalam jangka panjang.
Selain itu, beberapa kondisi kesehatan fisik dan mental juga meningkatkan durasi tidur. Penyakit kronis seperti diabetes, hipotiroidisme, fibromyalgia, atau nyeri kronis membuat tubuh mudah lelah.
Gangguan mental seperti depresi dan kecemasan turut berkontribusi pada oversleeping. Pemahaman mengenai obat dan kondisi medis sangat penting untuk mengatasi tidur yang berlebihan.
Gangguan Tidur Klinis dan Risiko Jangka Panjang
Beberapa gangguan tidur secara langsung membuat seseorang tidur lebih lama dari normal. Hipersomnia ditandai dengan kantuk berlebihan di siang hari meski sudah tidur lama.
Sleep apnea menurunkan kualitas tidur akibat gangguan napas, sedangkan narcolepsy menyebabkan serangan tidur mendadak. Restless Leg Syndrome juga membuat tidur tidak nyenyak. Kondisi-kondisi ini biasanya memerlukan penanganan medis.
Durasi tidur yang berlebihan tidak hanya soal waktu di tempat tidur. Penelitian menunjukkan tidur terlalu lama dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular, stroke, hingga kematian dini.
Tidur sembilan jam per hari dapat meningkatkan risiko kematian sekitar 14 persen, 10 jam sebesar 30 persen, dan 11 jam mencapai 47 persen. Kadar C-reactive protein (CRP) yang tinggi, penanda peradangan, juga lebih sering ditemukan pada orang yang tidur berlebihan.
Kesimpulan
Tidur adalah bagian penting dari pemeliharaan kesehatan, tetapi tidur berlebihan bukanlah tanda tubuh yang optimal. Mengidentifikasi penyebab, mulai dari zat adiktif, gaya hidup, obat-obatan, hingga gangguan tidur klinis, membantu mencegah risiko kesehatan jangka panjang. Keseimbangan antara durasi dan kualitas tidur menjadi kunci agar tubuh tetap segar dan sehat.
Idealnya, orang dewasa tidur sekitar 7–8 jam per hari, remaja 8–10 jam, dan anak-anak memiliki kebutuhan tidur lebih panjang sesuai usia. Kualitas tidur sama pentingnya dengan durasi.
Tidur panjang namun tidak nyenyak tetap dapat menimbulkan kantuk, lemas, dan risiko kesehatan serius. Oleh karena itu, memperhatikan pola tidur, kondisi tubuh, dan lingkungan menjadi langkah awal menjaga kualitas hidup yang optimal.